Saturday, June 6, 2015

Kepemimpinan bukanlah jabatan

Jangan heran jika banyak orang yang punya jabatan tidak menunjukkan jiwa kepemimpinan. Karena, kepemimpinan tidak identik dengan jabatan.
 
"Jabatan dikartu nama saya menejer, bukan pemimpin. Jadi kenapa mesti ambil pusing dengan urusan macam itu? Ngejar target saja sudah bikin sibuk. Apalagi mikirin yang begitu?"
 
Anda betul. Hal itu menjelaskan mengapa jiwa kepemimpinan tidak selalu dimiliki oleh mereka yang bergelar menejer. Justru orang tanpa gelar 'M' malah yang sering memilikinya. Dan kita menyebutnya 'leader de facto'.
 
Makin jelas jika 'kepemimpinan' itu bukanlah jabatan. Melainkan sikap, perilaku, serta cara hidup yang memungkinkan seseorang memberi nilai kepada lingkungannya. Sehingga orang lain respek kepadanya. Dan bersedia untuk mendengar, dan mengikuti jalannya.
 
Jabatan tidak terkait langsung dengan kepemimpinan. Sehingga dalam posisi apapun Anda berada, Anda bisa tampil sebagai pemimpinnya.
 
Maka jika Anda belum memiliki jabatan. Jangan menunggu dipromosi dulu untuk menunjukkan kualitas kepemimpinan Anda. Lakukan sekarang saja. Supaya anugerah yang Tuhan berikan itu bisa segera Anda manfaatkan.
 
Dan insya Allah, hasilnya bakal Anda rasakan. Baik bagi diri Anda sendiri. Maupun orang-orang yang berada disekitar Anda. Anda bisa melakukannya, tanpa harus menduduki jabatan tertentu terlebih dahulu. Karena, kepemimpinan itu beyond jabatan.
 
NB: Ingin mengundang DeKa bicara dikantor Anda? Manfaatkan 50% OFF trainer fee selama bulan Ramadhan untuk semua topik trainingnya. Berlaku di Jabotabek. Terbatas hanya 10 perusahaan saja. Pendaftaran ke 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com paling lambat 18 Juni. Segera daftar.
 
Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman  
Author, Trainer, and Public Speaker
 

Faktor Penentu

Menurut pendapat Anda; Kenapa training sering tidak efektif? Banyak faktor penyebabnya ya. Trainer yang gak asyik. Metode belajar yang tak menarik. Suasana belajar yang kurang mendukung. Juga lingkungan kerja yang tidak memberi ruang untuk menerapkan ilmu yang dipelajari.

Jadi memang banyak faktor yang bisa menjadi penyebabnya. Tetapi, kalau kita boleh menyebut 1 faktor yang paling menentukan; menurut pendapat Anda apa itu?

Sekalipun Anda berpendapat bahwa; faktor trainer yang menjadi penyebab utamanya, saya terima sepenuh hati penilaian Anda. Kita bisa belajar apa dari trainer yang nggak bagus, kan?

Tapi coba perhatikan, betapa dari hal paling buruk sekalipun kita masih bisa belajar banyak hal. Betul kan? Dari orang yang nggak ada ilmunya sekalipun kita bisa belajar sesuatu.

Demikian pula halnya dengan lingkungan ya buruk. Banyak orang yang justru bangkit dari lingkungan yang tidak mendukungnya untuk menjadi pribadi mumpuni. Ketika orang itu mengambil keputusan dan tindakan yang berbeda dari kebanyakan orang lainnya.

Sebaliknya, Anda boleh mengudang trainer terbaik. Membuat lingkungan yang kondusif. Menyediakan budget yang cukup. Tapi. Orangnya tidak punya komitmen yang kuat untuk belajar. Mungkinkah proses pendidikan dan pengembangan itu bisa efektif?

Tidak dong ya. Nah. Sekarang. Kita sudah lebih paham apa faktor yang paling berpengaruh pada proses pelatihan. Tidak berarti faktor lainnya tidak memberi pengaruh apa-apa; tapi faktor yang satu itu, sangat kritis pengaruhnya. Anda sudah paham faktor yang satu itu kan?

NB: Ingin mengundang DeKa bicara dikantor Anda? Manfaatkan 50% OFF trainer fee selama bulan Ramadhan untuk semua topik trainingnya. Berlaku di Jabotabek. Terbatas hanya 10 perusahaan saja. Pendaftaran ke 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com paling lambat 18 Juni. Segera daftar. 

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker

Menikmati nikmat

Jika hari libur tidak pergi kemana-mana; orang kadang jadi bete. Padahal, kondisi tidak selalu memungkinkan kan?

Bila Anda mengalami hal seperti itu, maka cobalah untuk menyadari bahwa; tidak semua orang, mendapatkan hari libur. Tengok saja sekitar Anda. Bukankah banyak orang yang harus terus bekerja?

Mirip dengan orang yang punya sepatu tapi nggak mahal, lalu dia menggerutu. Dia baru sadar setelah tahu bahwa ada orang lain yang sepatunya bukan sekedar nggak mahal, tapi juga butut.

Orang yang sepatunya butut itu baru sadar setelah tahu bahwa ada orang yang tidak punya sepatu. Dan yang tidak punya sepatu itu pun sadar setelah melihat seseorang yang tidak punya kaki.

Kita, bisa merasakan lezatnya semua hal yang melekat dalam diri kita jika paham bahwa; keadaan kita masih jauh lebih baik dari orang-orang tertentu yang ternyata tidak seberuntung kita.

Hal itu berlaku pada hampir seluruh aspek kehidupan kita. Urusan pekerjaan, kepemilikan, kesempatan, dan segala hal lainnya.

Mengapa kita merasa kurang terus? Bukan karena tidak punya. Tapi karena tidak menyadari, betapa beruntungnya kita.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur. Yaitu yang menghargai apapun yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Lalu memanfaatkannya sebaik-baiknya. Sehingga apapun dan berapa pun; selalu terasa nikmatnya. Anda, termasuk yang demikian kan? Alhamdulillah.

PROMO: Manfaatkan 50% OFF trainer fee selama bulan Ramadhan untuk semua topik training saya. Berlaku di Jabotabek. Terbatas hanya 10 perusahaan saja. Pendaftaran ke 0812-19899-737 atau dkadarusman@yahoo.com paling lambat 18 Juni. Segera daftar. 

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA – Dadang Kadarusman
Author, Trainer, and Public Speaker

Better or Bitter

BETTER OR BITTER
Rcvd fr Janni Tio
Edited by GC Jun 5, 2015

Alkisah di sebuah musium, ada sebuah patung batu pualam yg besar dan sgt indah di atas lantai pualam yg juga indah. Banyak org dtg dari seluruh dunia mengagumi keindahan patung pualam itu.

Suatu malam, lantai pualam (LP) itu berkata pada patung pualam (PP)...

LP: "Wahai PP, rasa aku hidup ini sungguh tdk adil... benar2 tdk adil ! Mengapa org2 dari seluruh dunia dtg kemari meng-injak2 diriku ttp mrk sgt mengagumimu ? Benar2 tdk adil !"

PP: "Oh temanku, LP yg baik. Msh ingatkah kau bhw kita ini sesungguhnya berasal dari gunung batu yg sama?"

LP: "Tentu saja, maka ketidak-adilan itu makin kurasa. Kita berasal dari gunung batu yg sama, ttp menerima perlakuan yg berbeda. Benar2 tdk adil!"

PP: "Lalu apakah kau msh ingat ketika suatu hr se-org pemahat dtg & berusaha memahat dirimu, ttp kau malah menolak & merusakkan peralatan pahatnya?"

LP: "Ya, tentu saja aku msh ingat. Aku sgt benci pemahat itu. Bgm ia bgtu tega menggunakan pahatnya utk melukai diriku. Rasanya sakit sekali!"

PP: "Kau benar! Pemahat itu tdk bisa mengukir dirimu sama sekali karena kau menolaknya."

LP: "Lalu?"

PP: "Saat ia memutuskan utk tdk meneruskan pekerjaannya pada dirimu, sesungguhnya ia beralih utk memahat diriku. Saat itu aku tahu melalui hasil karyanya aku akan menjadi sesuatu yg benar2 berbeda. Aku tdk menolak peralatan pahatnya membentuk tubuhku. Aku berusaha utk menahan rasa sakit yg luar biasa (BITTER)."

LP: "Mmmmmm…."

PP: "Kawanku, itu adlh harga yg hrs utk bayar utk sebuah kemuliaan. Saat kau memutuskan utk menyerah, kau tak boleh menyalahkan siapa2 atas apa yg terjadi pada dirimu skrg."

Setiap pengalaman pahit (BITTER) yg kita terima sesungguhnya membentuk hidup kita utk lebih baik (BETTER).

No Pain No Gain, High Pain High Gain. Tiada hasil tanpa usaha keras.

Jia You 加油! Semangat!

Have a Wonderful Friday! GC

Menolong Orang

MENOLONG ORANG
Translated fr Buddhist Parable
Edited by GC, Jun 4, 2015

Suatu pagi, se-org petapa tua baru saja menyelesaikan meditasinya di sebuah hutan yg begitu asri & indah. Ketika ia hendak pulang, ia melewati sebuah telaga yg indah.

Tiba2 tampak dipinggiran telaga se-ekor scorpion mengambang tanpa daya di atas air. Pak tua tsb menggeser scorpion tsb ke tepian telaga, lalu dgn sebuah akar pohon yg menjuntai keluar ia berpegangan sementara tangannya yg satu lagi mencoba meraih scorpion tsb utk menolongnya agar tdk tenggelam.

Namun ketika dia menyentuh scorpion tsb. Scorpion tsb lgsg berusaha menyengatnya. Spontan secara refleks si pak tua menghindarinya.

1 menit kemudian, setelah keseimbangannya sdh stabil kembali, ia mulai kembali usaha penyelamatannya. Kali ini scorpion tsb menyengatnya dgn sgt buruk dgn ekornya yg berbisa. Tangannya hingga bengkak dan berdarah.

Se-org pejalan kaki yg sejak awal memperhatikan adegan tsb berkata: "Pak Tua, apa tdk salah? Mengapa kok kamu mau merisikokan nyawamu utk menolong mahluk yg tdk tau diri dan berusaha membunuh kamu?"

Pak tua itu memalingkan mukanya pada si pemuda seraya menatap mata pemuda tsb. "Sahabatku, adalah sifat alamiah scorpion utk bereaksi dgn menyengat. Dan hal ini tdk mengubah sifat alamiahku utk menolong."

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yg memberikan nyawanya untuk sahabat2nya.

Menolong haruslah tanpa syarat. Ketika kita menolong baiknya kita tdk memikirkan... Saya mau menolong jika... begini atau begitu...

Kebaikan hati kita kadang dimanipulasi ... biarkanlah... Itu urusan dia. Ketika kita mampu dan ada kesempatan utk menolong, tolonglah... Yg terpenting adalah "usaha menolongnya" bukan apa yg terjadi setelah itu.

"A generous heart, kind speech, and a life of service and compassion are the things which renew humanity." Buddha

Have a GREAT day! GC

Kesaktian Pancasila

KESAKTIAN PANCASILA
By GC June 3, 2015

Hutan Dusun Plumbon, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang sekitar 50 thn lalu atau di akhir thn 1965. Kala itu suara gerimis beradu dgn deru rentetan senjata api yg pelurunya menghujam puluhan warga pribumi yg tersungkur lalu dikubur.

Jasad2 org yg dituduh PKI itu dikubur di dua lubang yg digali di bawah dua pohon jarak tanpa ada prosesi atau lantunan doa. Keberadaan mereka pun disembunyikan sehingga tdk ada sanak saudara yg tahu.

Secuil gambaran tragedi 1965 itu masih terukir jelas di ingatan Sudirman, seorang kakek yg kala itu menyaksikan rekan2nya dihujani peluru hingga tewas. Dia menjadi satu2nya saksi hidup dari ratusan orang yg dieksekusi mati oleh penguasa pada saat itu.

Kita miris jika melihat bagaimana sebuah kekuasaan dgn sewenang2 mengambil hak azasi manusia yg terutama yaitu hak utk hidup.

Kita patut bersyukur bahwa pada akhirnya Pancasila menunjukkan kesaktiannya dan berhasil menyatukan seluruh unsur masyarakat yg beragam yg berbeda bahasa, agama dan ras menjadi satu yaitu Bangsa Indonesia.

Namun Hal yg seperti diatas kini msh terjadi dibelahan bumi lain. Dengan dalih mendirikan negara ISIS, mereka menghalalkan semua cara brutal yg tdk berperikemanusiaan serta melegalkan perampokan hak azasi manusia.

Semoga Pancasila yg menjadi lambang negara kita terus menunjukkan kesaktiannya selamanya di Indonesia. Serta mampu menjaga rakyat Indonesia utk terus hidup rukun, damai, sentosa serta bergotong royong membangun bangsa ini menjadi bangsa besar dan kuat.

“I hope that real love and truth are stronger in the end than any evil or misfortune in the world.” ― Charles Dickens.

Have a GREAT day! GC

Monday, June 1, 2015

Harga yang harus dibayar

HARGA YG HRS DIBAYAR
By GC Jan 14, 2013
Resend on June 1, 2015
 
Seorang turis sedang melancong di pasar tradisional suku Indian. Di sana dijajakan berbagai macam cinderamata.
 
Saat melihat kalung² dengan bandul gigi buaya, gigi harimau, gigi ikan hiu dan juga kuku beruang, si turis bertanya, "Apakah bandul² kalung itu sangat bernilai bagi orang² Indian?"
 
Pedagang itu menjawab, "Oh tentu, bahkan jauh lebih bernilai daripada mutiara."
 
Sang turis terheran-heran, padahal mutiara jauh lebih indah dan berharga di negaranya.
 
Kemudian ia bertanya lagi, "Mengapa gigi² itu lebih bernilai? Apa keistimewaannya?" 
 
Sang pedagang pun menjawab, "Banyak orang bisa membuka tiram dan mengambil mutiaranya, sebaliknya hanya orang yang berani menghadapi tantangan saja yang dapat mengambil gigi dan kuku binatang tsb. Itulah yang membuatnya bernilai sangat tinggi!"
 
Seorang pakar kepemimpinan dunia, John C. Maxwell, berkata, "Ada label harga yang menempel pada setiap keberhasilan yang selalu menjadi pertanyaan adalah, maukah Anda membayar harga tersebut melalui kerja keras, pengorbanan, kesabaran, ketekunan dan ketabahan?!" 
 
Segala sesuatu ada harganya, hanya saja tidak banyak orang yang mengerti prinsip ini. Banyak orang ingin sukses tapi malas. Banyak yg ingin merasakan kenikmatan tapi tidak mau usaha. Ingin mendapat banyak tapi upayanya sedikit. Ingin sehat tapi tidak mau menerapkan gaya hidup sehat. Ingin posisi tinggi tapi tidak melakukan apa-apa.
 
Seberapa besar pengorbanan kita untuk mendapatkan sesuatu, itu menentukan besarnya nilai impian yang Anda kejar..
"No pain no gain.."
"Tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan!"
 
Ada label harga dalam setiap pencapaian, bersediakah Anda membayarnya???
 
Have a GREAT day! GC